Belajar Tentang Kesabaran
Sebuah sinetron yang tayang di salah satu stasiun TV cukup menarik. Mengajarkan untuk bersabar,tidak bersu'udzan , tentang kisah seorang istri yang selalu tegar dalam "memaafkan". yah, CHSI yang merupakan adaptasi bebas dari tulisan cantik karya bunda Asma Nadia memang nyaris mampu mengoyak perasaan. membuat penonton serasa menjadi "Hana" sang sosok penyabar itu.
lalu apakah apakah yang membuat Hana bisa kuat? jawabannya tentu adalah keimanan dan tawakalnya. meski hati terkoyak, tapi emosi serasa tsunami yang siap meluluhlantakkan apapun yang ada dihadapannya. keimanannya selalu menjadi benteng yang mampu menahan gelombang sekuat apapun. teror menyakitkan yang siap menusuknya berkali-kali selalu dihadapi dengan sabar.
melibatkan Allah dalam setiap masalah, dalam setiap mengambil keputusan adalah cara terbaik dalam proses tawakal. tak mengedepankan rasional saja, tapi bagaimana sikap "islam" yang selalu santun dalam menuntun hambanya yang menangis.
Dalam sinetron itu kita belajar tentang kesabaran seorang istri. bagaimana perjuangannya mempertahankan rumah tangga demi sang buah hati.
tapi hari ini, di depan mataku, aku belajar tentang kesabaran seorang suami. tak selamanya suami itu dzalim, tak selamanya yang di "cap" tak tahu diri adalah suami.
Kisah seorang pria berusia 49 tahun yang berusaha memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah dikala raga tak lagi kokoh. dikala penyakit mulai menggerogotinya.
Entah kenapa hatiku sakit melihatnya seperti orang linglung. berjalan dengan tertatih, nafas yang megap-megap. menangis tanpa ada yang tahu sebabnya. mungkin jika kesabaran tak melindunginya, ia sudah 'gila'.
kisahnya, ia ayah dari 3 orang anak. Ia berasal dari sebuah desa di jawa tengah. merantau ke luar jawa sedari lulus SD. berjuang hidup sendirian dikala usia yang masih belia. beruntung, di masa remajanya ia bertemu seorang dokter yang baik hati. menyekolahkannya dan memberinya pekerjaan di klinik yang ia bangun.
Tahun berganti hingga kesuksesan mengikuti jejaknya. ia mampu membeli sebuah tanah dan rumah dikampungnya dengan hasil jerih payahnya bekerja di klinik gigi.
Iapun menikah. dulu, saat aku kecil, aku memandangnya dengan kagum. seorang yang kaya dan sukses hingga semua keinginan anaknya terpenuhi. tak seperti aku yang diajari untuk "menabung" untuk meraih barang yang aku inginkan.
hidupnya mewah. makanan enak selalu menjadi santapan. satu hal yang baru aku ketahui belakangan, ternyata sang pria ini bekerja tak hanya membiayai kehidupan sang istri dan ketiga anaknya. tetapi juga keluarga besar istrinya.
entah kenapa aku merasa mereka sebagai sosok yang menggerogoti keuangan Sang Pria. Mau kuliah minta. Mau buka salon, minta. biaya hidup, minta. Bagaimana mungkin satu orang bekerja keras untuk menghidupi 7 keluarga sekaligus diluar keluarganya sendiri.
tak ayal sekarang di usianya yang baru 49 tahun tubuhnya tak lagi kuat menopang beban pikiran dan beban ekonomi yang diembannya. "Uangnya" nyaris tak bersisa. padahal anaknya sendiri memerlukan baiay untuk kuliah. si sulung masih kuliah. ia beruntung sang ayah masih bisa menahan penyakitnya beberapa tahun lalu, hingga ia bisa masuk universitas.
anak keduanya tak bernasib sama. ketika ia lulus SMA, sanga ayah ambruk. penyakit jantungnya membuatnya tak mampu bekerja keras seperti dulu. Iapun bekerja di Jakarta.
Dan apa yang dilakukan sang istri? Ia yang seharusnya menguatkan suami, menjaga dan merawatnya ketika sakit, justru sebaliknya.
Entah apa yang terjadi disana hingga sang pria menelpon keponakannya minta dijemput pulang kampung. menangis.
Siapa yang tak iba melihat keadaannya sekarang. Sang Istri terus menyabarkan anaknya yang tak bisa masuk kuliah. menangis di depan sang suami. bagaimana perasaan ayah dan suami melihat anak dan istrinya menangisi biaya kuliah?
Ia tentu menyalahkan dirinya sendiri yang tak mampu lagi bekerja sekuat dulu. Tapi, tidakkah sang istri melihat perjuangannya mencukupi kebutuhan dari keluarga besar sang Istri?
Dulu, ketika sang suami muda, Ia bekerja keras bukan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. tapi kebutuhan "keluarga besar istri". sekarang ketika mereka sukses, adakah yang mengingat dan membantu kondisi "Si Pria" ini? jawabannya TAK SATUPUN.
Justru keluarga "Si pria" di kampung yang berusaha menghibur. membawanya pulang ke kampung dalam keadaan fisik yang lemah.
Ia pria yang sabar, diperlakukan dengan tak semestinya oleh sang istri. ia bersabar. mungkin karena beban yang teramat sangat hingga aku sering melihatnya menangis.
kesuksesannya di kala muda habis untuk menghidupi kebiasaan hidup mewah sang istri dan keluarga besarnya. Skarang ketika sang suami sakit keras, ia diperlakukan dengan tak semestinya.
Dari pria ini aku belajar sabar. Egonya tentu membuatnya ingin pulang saja kekampung. tapi bagaimana dengan anaknya? merekalah yang membuatnya bertahan dan bersabar. berusaha bekerja meski fisik tak lagi membara. Semoga Allah memberikan kesembuhan padanya. semoga Allah menyadarkan sang istri. dan semoga Allah membari kesadaran mereka "yang tak tahu diri" yang dulu dicukupi kebutuhannya tapi sekarang sikapnya tak lagi manisnya.